Krisis Energi Filipina: Pekerja Transportasi Gelar Mogok Massal Protes Lonjakan Harga BBM
Internasional

Krisis Energi Filipina: Pekerja Transportasi Gelar Mogok Massal Protes Lonjakan Harga BBM

Ratusan pekerja sektor transportasi di Manila, Filipina, meluncurkan aksi mogok kerja massal pada Kamis, 26 Maret 2026. Aksi ini merupakan respons kolektif terhadap eskalasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dinilai telah mencapai titik yang tidak lagi tertahankan bagi ekonomi rumah tangga kelas pekerja.

Sejak pecahnya konflik bersenjata di Iran pada 28 Februari lalu, harga solar dan bensin di Filipina tercatat telah melonjak lebih dari dua kali lipat. Situasi ini menempatkan Filipina dalam posisi yang sangat rentan, mengingat negara tersebut selama ini menggantungkan 98 persen kebutuhan energinya pada pasokan yang melewati Selat Hormuz.

BACA JUGA : Ancaman “Sycophancy” Digital: Studi Ungkap Kecenderungan AI Membenarkan Perilaku Buruk Pengguna Muda

Tuntutan Struktural Koalisi Transportasi

Melansir laporan BBC, koalisi transportasi yang mengorganisir pemogokan ini mengajukan sejumlah tuntutan krusial kepada administrasi pemerintah, antara lain:

  • Penghapusan Pajak Bahan Bakar: Mendesak pemerintah untuk segera mencabut beban pajak pada komponen harga BBM.
  • Intervensi Harga: Menuntut penghentian kebijakan deregulasi dan mendesak pemberlakuan kontrol harga oleh negara.
  • Penyesuaian Kesejahteraan: Menuntut kenaikan tarif transportasi serta peningkatan standar upah minimum bagi pekerja sektor jasa.

Massa demonstran, yang didominasi oleh pengemudi jeepney, pengemudi ojek, serta mitra transportasi daring, berkumpul di berbagai titik strategis di ibu kota Manila dengan membawa tuntutan agar pemerintah mengambil langkah nyata guna mencegah keruntuhan ekonomi sektor transportasi.

Kendala Penyaluran Bantuan Sosial

Di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit, para pekerja transportasi juga mengeluhkan birokrasi penyaluran bantuan sosial. Departemen Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan sebelumnya menjanjikan bantuan tunai sebesar 5.000 peso atau sekitar Rp 1,4 juta bagi pengemudi yang memenuhi kriteria. Namun, di lapangan, banyak pengemudi yang mengaku belum menerima hak tersebut.

Guillermo Japole (62), seorang pengemudi yang memiliki lima anak usia sekolah, mengungkapkan rasa frustrasinya setelah mengantre selama lima jam namun namanya tidak tercatat dalam daftar penerima bantuan. Kondisi tanpa penghasilan dan ketiadaan bantuan ini menempatkan keluarganya dalam risiko kelaparan serta ancaman pengusiran dari rumah sewaan. Hal senada diungkapkan oleh Anjo Lilac (28), yang terpaksa membawa putrinya ke lokasi demonstrasi untuk menyuarakan ketidakadilan administratif yang dialaminya.

Diversifikasi Energi dari Rusia

Sebagai langkah mitigasi jangka pendek, Presiden Ferdinand Marcos Jr. berjanji untuk segera mencari sumber energi alternatif guna memutus ketergantungan pada Selat Hormuz. Bersamaan dengan dimulainya aksi mogok kerja tersebut, sebuah kapal tanker yang membawa lebih dari 700.000 barel minyak mentah dari Rusia dilaporkan telah tiba di Filipina.

Langkah mengimpor minyak dari Rusia dipandang sebagai upaya darurat pemerintah untuk menstabilkan stok nasional, meskipun hal ini belum memberikan dampak instan terhadap penurunan harga di tingkat retail. Para analis ekonomi memperingatkan bahwa jika harga BBM tidak segera terkendali, gelombang protes yang lebih besar dapat mengancam stabilitas sosial dan ekonomi Filipina di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Anda mungkin juga suka...