Eskalasi Perang Samudra Hindia: Kapal Perang Iran Tenggelam Terjang Torpedo Kapal Selam AS
Internasional

Eskalasi Perang Samudra Hindia: Kapal Perang Iran Tenggelam Terjang Torpedo Kapal Selam AS

COLOMBO — Ketegangan militer di Samudra Hindia mencapai titik kritis setelah fregat milik Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, dilaporkan meledak dan tenggelam pada Rabu (4/3/2026). Insiden mematikan ini terjadi pasca-serangan torpedo yang diluncurkan oleh kapal selam Amerika Serikat (AS), menandai konfrontasi laut paling destruktif sejak dimulainya konflik terbuka antara aliansi AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu.

BACA JUGA : Runtuhnya Pusat Gravitasi Teheran: Analisis Masa Depan Politik Iran Pasca-Khamenei

Pernyataan Resmi Pentagon dan Operasi “Kematian Senyap”

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengonfirmasi keterlibatan militer Washington dalam insiden tersebut. Berbicara dalam konferensi pers di Pentagon, Hegseth menegaskan bahwa serangan torpedo dilakukan saat kapal perang Iran tersebut berada di perairan internasional, yang selama ini dianggap sebagai zona aman oleh Teheran.

“Sebuah kapal selam Amerika berhasil menetralisir fregat Iran yang mengira mereka tidak terjangkau di perairan internasional. Ini adalah bentuk serangan yang kami sebut sebagai ‘kematian senyap’ (silent death),” ujar Hegseth.

Menhan AS juga menggarisbawahi signifikansi historis dari operasi ini. Ia menyebutkan bahwa peristiwa ini merupakan kali pertama sejak Perang Dunia II, Angkatan Laut Amerika Serikat menenggelamkan kapal musuh menggunakan torpedo dalam situasi pertempuran nyata. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi besar Pentagon untuk melumpuhkan kapabilitas maritim Iran secara total.

Detail Insiden di Lepas Pantai Sri Lanka

Berdasarkan laporan dari otoritas Sri Lanka, sinyal darurat dari IRIS Dena pertama kali tertangkap pada waktu fajar, Rabu (4/3/2026). Tim penyelamat dari Angkatan Laut Sri Lanka segera dikerahkan ke lokasi koordinat yang berada sekitar 40 kilometer di selatan pelabuhan Galle.

Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, memberikan keterangan di hadapan parlemen bahwa saat kapal penyelamat tiba di lokasi kurang dari satu jam kemudian, kapal perang tersebut sudah tidak terlihat di permukaan. Area pencarian hanya dipenuhi oleh puing-puing dan tumpahan minyak yang meluas.

Data Korban: 148 Pelaut Dinyatakan Hilang

Hingga saat ini, upaya penyelamatan mencatatkan data sebagai berikut:

  • Korban Selamat: 32 awak kapal berhasil dievakuasi dan segera dilarikan ke rumah sakit utama di wilayah selatan Sri Lanka untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
  • Korban Hilang: 148 pelaut lainnya masih belum ditemukan. Otoritas setempat mengakui bahwa peluang untuk menemukan penyintas tambahan sangat kecil mengingat kedalaman perairan dan kekuatan ledakan yang terjadi sebelum kapal tenggelam.

“Kami mengerahkan dua kapal angkatan laut dan satu pesawat pengintai untuk terus menyisir area tersebut, namun hingga kini belum ada tanda-tanda keberadaan awak kapal lainnya,” ungkap seorang pejabat pertahanan Sri Lanka kepada AFP.

Dampak Geopolitik dan Perluasan Konflik

Tenggelamnya IRIS Dena di Samudra Hindia menunjukkan bahwa palagan perang antara Iran dan aliansi AS-Israel tidak lagi terbatas pada wilayah Teluk Persia atau Timur Tengah daratan, melainkan telah merambah ke jalur pelayaran internasional yang vital.

Langkah AS yang menggunakan kapal selam sebagai instrumen penyerangan memberikan pesan kuat mengenai dominasi bawah laut mereka. Hal ini diprediksi akan memicu balasan dari Iran, yang sebelumnya telah mengancam akan mengerahkan unit drone dan rudal balistiknya ke berbagai aset militer AS di seluruh dunia sebagai respons atas kematian pemimpin mereka dan penghancuran armada lautnya.

Anda mungkin juga suka...