Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan peringatan keras kepada otoritas Iran terkait laporan pengenaan biaya terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul hanya beberapa saat setelah jalur perairan paling strategis di dunia tersebut dibuka kembali dalam kerangka kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. Melalui platform media sosial Truth Social pada Kamis (9/4/2026), Trump menuntut agar Teheran segera menghentikan praktik pemungutan biaya tersebut.
BACA JUGA : Kontroversi Perbedaan Poin Gencatan Senjata Versi Amerika Serikat dan Iran
Tuduhan Pelanggaran Kesepakatan Diplomasi
Donald Trump menegaskan bahwa penerapan biaya pelintasan bagi kapal tanker dan kargo bukan merupakan bagian dari poin-poin yang disepakati dalam negosiasi gencatan senjata. Ia menilai langkah sepihak Iran tersebut sebagai tindakan yang tidak terhormat dan menghambat proses deeskalasi konflik di kawasan.
“Iran menjalankan peran yang sangat buruk dalam proses normalisasi aliran minyak di Selat Hormuz. Ini bukan kesepakatan yang kita miliki sebelumnya!” tegas Trump. Ia juga menambahkan proyeksi optimis bahwa distribusi minyak global akan segera pulih dalam waktu dekat, dengan atau tanpa kerja sama aktif dari pihak Iran.
Stagnasi Aktivitas Maritim di Jalur Vital
Meskipun secara formal Selat Hormuz telah dinyatakan terbuka, realitas di lapangan menunjukkan aktivitas yang masih sangat terbatas. Berdasarkan data pelacakan maritim terkini, sejak gencatan senjata diberlakukan, tercatat hanya sekitar 10 kapal yang berani melintasi selat tersebut.
Rendahnya volume lalu lintas ini mencerminkan tingginya tingkat ketidakpastian dan kekhawatiran keamanan di kalangan operator pelayaran internasional. Selat Hormuz memegang peranan krusial karena menjadi jalur distribusi bagi hampir seperlima kebutuhan minyak mentah dunia, sehingga hambatan apa pun di jalur ini berdampak langsung pada volatilitas harga energi global.
Respons Teheran: Fase Baru Pengelolaan Selat
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memberikan sinyal bahwa Teheran akan mengambil pendekatan berbeda dalam pengelolaan Selat Hormuz ke depannya. Ia menyatakan bahwa pengelolaan wilayah perairan tersebut akan memasuki fase baru yang lebih ketat.
Poin utama yang ditekankan oleh pihak Iran adalah tuntutan pertanggungjawaban dan kompensasi atas kerusakan ekonomi serta infrastruktur yang diderita selama periode konflik bersenjata berlangsung. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran memandang pemungutan biaya atau kontrol ketat di selat tersebut sebagai bentuk kompensasi atas kerugian perang, sebuah posisi yang bertolak belakang dengan harapan Washington akan jalur pelayaran yang bebas dan tanpa hambatan.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata militer telah tercapai, perang urat syaraf di jalur diplomasi dan ekonomi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlanjut dengan intensitas tinggi, dengan Selat Hormuz tetap menjadi titik sumbu utama konflik.
